Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

5 Alasan Saya Memakai Digital Audio Player (DAP) Untuk Mendengarkan Musik


Musik memang jadi salah satu hal yang biasa di kehidupan kita. Musik bisa didengar dimana aja. Tidak jarang musik dijadikan tool untuk menunjang aktifitas seperti belajar, bekerja, temen nyetir, atau sekedar diputer biar suasana ga sepi.

Dulu, kalau mau denger musik masih serba manual. Mulai dari play vynil atau muter kaset pita di tape atau di walkman. Tapi sekarang, teknologi di dunia audio juga semkin canggih dan maju. Dengerin musik kini serba digital, mulai dengerin file audio, streaming spotify atau YouTube. Semuanya kini bisa dilakukan oleh satu divice yakni smartphone. Smartphone kekinian, mau apa aja mereknya tinggal buka spotify, colok headset, langsung enjoy musik.



Ya, dengan smartphone hari ini, dengerin musik semakin mudah. Tinggal swipe swipe and play. Namun ini berbalik dengan saya, di smartphone saya malah ga ada file musik dan music streaming service app macam spotify atau joox. Saya masih semi-manual dalam dengerin musik. Alias saya masih pake music player yang terpisah dari smartphone. Jadi saya masih dengerin musik secara offline dari digital audio player (DAP).

Ah, itu sih namanya nyusahin diri sendiri, kenapa ga pake smartphone aja?! Tinggal streaming semua beres. Kenapa saya masih "bertahan" dengan old way to listen music yakni mendengarkan musik dengan audio player? Ini alasan-alasan saya kenapa saya masih pakai DAP buat dengerin musik :

Kualitas Suara

Alasan nomor satu dan diatas segala alasannya adalah kualitas suara yang dihasilkan oleh DAP. Berbeda dengan smartphone, DAP dibuat dengan tujuan untuk reproduksi suara musik. Sehingga hardware (sound chip) yang ditanam di DAP memang chip yang berkualitas audio bagus. Tak sedikit DAP yang didalamnya ditanam lebih dari satu chip audio, sehingga suara yang dihasilkan sangat bagus. 

Dalam DAP juga ada settingan atau fitur yang mendukung kualitas produksi audio, misalkan gain setting, balance settiing, filter dan lainnya. Selain itu biasanya DAP punya lebih banyak lubang jack (2.5, 3.5, 4.4 line out, dan lain-lain), berbeda dengan smartphone pada umumnya cuma punya jack 3.5, yang itupun saat ini semakin jarang ditemui karena pabrikan smartphone mulai menghilangkan audio jack.



Dengan hardware yang didedikasikan untuk memproses audio beresosuli tinggi (high resolutin / hi res), pastinya suara dari DAP lebih baik dari Smartphone. Detail suara dan kualitas suara sangat berbeda dari smartphone. Dengan DAP (dan ditambah file audio) yang bagus, bakalan terdenganr suara yang jernih, detail dan suara-suara kecil yang ga terdengar sebelumnya bisa jadi muncul terdengar. Memang ada beberapa smartphone yang punya lebih dari satu chip audio didalamnya seperti LG V20 atau LG V30 yang hasil output audionya juga bagus.

Daya Tahan Baterai

Bagi saya yang cuma satu handphone, kapasitas baterai handphone menjadi pertimbangan utama dalam memilih handphone agar bisa hidup seharian dan ga terlalu banyak ngecharge. Namun tugas handphone utama saya mulai chat, media sosial, dan urusan pekerjaan kantor lainnya membutuhkan baterai yang prima. Memainkan lagu entah itu secara offline atau online (streaming) akan menguras baterai handphone. Saya ga pengen ketika pengen denger musik tapi baterai handphone sudah dalam kondisi low, atau sebaliknya pengen ngerjain urusan kantor namun baterai udah abis duluan karena dipakai dengerin musik. Ngecharge berkali-kali dalam sehari itu ngrepotin!



Berbanding terbalik dengan DAP, secara hardware DAP cuma punya fungsi mutar musik. Sehingga task yang diperluin ya cuma muter musik, jadinya baterai udah pasti awet. Dari semua DAP yang pernah saya pakai punya ketahanan baterai yang badak. dalam seminggu belom tentu saya ngecharge DAP dengan pemakaian setiap hari. Jadi ga akan ketemu kondisi lagi pengen banget dengerin musik tapi ga bisa karena low batt. Bahkan DAP yang berukuran mini seperti Shanling M0, Xduoo X2, atau Sony Walkman NW-A55 bisa hidup lebih dari seminggu.

Tanpa Gangguan Notifikasi

Salah satu hal yang saya ga suka dari dengerin musik di smartphone adalah gangguan notifikasi. Smartphone siapa sih yang sepi notifikasi? smartphone nya jomblo kali yak hehehe. Ga cuma aplikasi chat, semua aplikasi rame nongolin notifikasi. Dan apa yang terjadi kalo pas dengerin musik trus notifikasi nongol? Yak betul, suara volume musik akan diturunin sedikit demi dengerin bunyi notifikasi. Kalo sekali dua kali sih gapapa, tapi  kalo grup WA kamu lagi rame ghibah, satu lagu bakalan keganggu puluhan notofikasi chat. Dengerin musik jadi ga lagi nikmat. Males banget! 

Fitur Pendukung Buat Dengerin Musik Lebih Maksimal

Seperti saya tulis diatas, DAP memang diproduksi bertujuan untuk hanya play music. Sehingga wajar di DAP banyak ditemui fitur yang membantu buat dengerin musik lebih asik lagi. Mulai dari ketersedian berbagai ukuran lubang jack. Ketika smartphone masa kini menghilangkan jack audio, DAP masih menawarkan berbagai lubang jack audio dalam berbagai ukuran seperti 3,5 single ended, 2,5 balanced, atau 4.4 balanced. Kenapa tersedia begitu banyak ukuran lubang jack? karena suara yang dihasilkan dari port jack yang dipakai akan berbeda-beda. Bahkan di beberapa DAP ada lunag line out (LO) untuk menyambungkan DAP dengan amplifier. Selain itu, kebanyakan DAP juga dilengkapi dengan tombol kontrol musik seperti play, pause, next dan previous, sehingga kita tinggal pencet-pencet buat kontrol musik. 



Di sisi software, DAP akan memberikan opsi equalizer, ga seperti equalizer bawaan smartphone, di beberapa DAP ada equalizer yang advance sehingga kita bisa ngatur equalizer dengan keinginan. Di beberapa DAP seperti Sony Walkman NW-A55 ada pilihan mode audio yang banyak sehingga kita bisa sesuaiin sama selera kuping. Selain itu masih ada fitur seperti setting gain, opsi USB DAC, filter dan masih banyak lagi.

Power


salah satu pertimbangan saya memilih DAP dibanding mendengarkan musik via smartphone adalah power. Kalau headset kita punya impendance / impendansi yang rendah, misalnya 16 Ω, bakalan santai-santai aja buat colok headset dan play musik dari smartphone. Tapi masalahnya, kalo ternyata headset kita punya impendance yang tinggi, misalnya hingga 150 Ω. Headset dengan impendance yang tinggi, memerlukan power yang besar juga untuk membuat dia bunyi. Ketika headset dengan impendance tinggi dicolok ke handphone, otomatis suaranya akan kecil dan lemah karena keurangan power. Mau tidak mau, kita harus naikin volume di handphone agar suaranya jadi lebih nyaring. Masalahnya adalah power yang disediakan handphone untuk output audio itu terbatas. Kita ga akan dapat suara yang optimal jika nyolokin headphone (misanya Audio Technica M40X) ke handphone, karena power yang dibutuhin si headphone ini besar. Semakin kita gedein volume di handphone, otomatis baterai di handphone juga cepat terkuras.

Berbeda dengan DAP yang memang dibuat untuk dengerin musik. DAP mungil seperti Xduoo X3II punya power yang kuat untuk memberi power headphone yang haus power. Sehingga, headset yang punya impendance yang tinggi akan lancar dan optimal jika dicolok ke DAP. Headphone dengan impendance besar tetap bisa "nyanyi" !!!. Sedikit tips buat teman-teman yang mau beli headset, coba lihat spesifikasi headset yang mau dibeli. Lihat impendance nya seberapa besar, jika terlalu besar dan teman-teman hanya play dari handphone, pertimbangannya akan menguras baterai dari handphone.


Itu dia lima alasan saya di hari ini saya masih menggunakan DAP secara terpisah dari smartphone. Memang terkesan ribet karena harus membawa dua device ketika bepergian. Namun dengan hasil kualitas suara musik yang baik menurut saya worth. Bagaimana, tertarik untuk mencoba DAP?
taorent
taorent traveller paruh waktu, geek full time

2 comments for "5 Alasan Saya Memakai Digital Audio Player (DAP) Untuk Mendengarkan Musik"